Bahan Bakar B30.jpg

Bahan Bakar B30 Jadi Pijakan Indonesia Menuju Era Euro 4

Senin, 9 Maret 2020 15:00 | Galih Pratama

OTONEWS – Per April 2021, pemerintah akan menerapkan standar emisi Euro 4. Standar emisi Euro adalah regulasi yang digunakan negara Eropa untuk kualitas udara di wilayah tersebut. Semakin tinggi standar Euro yang ditetapkan, maka semakin kecil batas kandungan gas kabondioksida, nitrogen oksida, kabon monoksida, volatile hydro carbon, dan partikel lainnya berdampak negatif pada manusia dan lingkungan.

Saat ini, Indonesia tengah ‘berlari’ mengejar standar Euro 4 pada kendaraan-kendaraan baru yang akan dijual di pasar otomotif Tanah Air. Sebagian agen pemegang merek (APM) pun sudah menyatakan kesiapannya menerapkan standar Euro 4.

Di satu sisi, banyak hal yang harus dipersiapkan guna merealisasikan standar Euro 4. Salah satunya adalah asupan bahan bakar kendaraan. Ya, kehadiran bahan bakar ramah lingkungan menjadi hal yang mutlak dibutuhkan guna merealiasikan standar Euro 4. Pemerintah pun sadar akan hal tersebut.

Belum lama ini, mereka resmi menyediakan bahan bakar B30 di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina. B30 merupakan pengembangan bahan bakar ramah lingkungan dengan kandungan minyak nabati hingga 30 persen. Kehadiran bahan B30 bisa dikatakan sebagai pijakan bagi pemerintah demi menggapai standar Euro 4.

[Baca Juga: Shell Indonesia Berbagi Pengetahuan Pentingnya Bahan Bakar B30]

Seperti yang diungkapkan Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika. Menurutnya, melalui pengunaan B30 akan membuat kendaraan semakin mudah mengimplementasikan standar Euro 4.

“Kalau B30 memang sangat compatible untuk campuran mencapai Euro 4. Karena standarnya sudah ditentukan dan kandungan-kandungan yang dibatasi di Euro 4, seperti sulfur, water content dan lainnya. Itu sudah sangat diatur, sehingga itu akan mudah mencapai Euro yang lebih tinggi,” jelas Putu dalam pameran GIICOMVEC 2020.

Lebih jauh dia menjelaskan, pemanfaatan bahan baku minyak nabati (fatty acid methyl ester/FAME) sejalan untuk menghadirkan bahan bakar yang bersih dari timbal karena minyak nabati tidak mengandung sulfur dan logam. "Jadi, semakin besar kandungan FAME di sebuah biosolar maka untuk mencapai standar Euro 4 akan lebih mudah dan bisa meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar oleh kendaraan bermesin diesel," ungkapnya lagi.

Di tempat terpisah, Seno Wirdiyawantoro, Division Head Product Planning PT Hino Motors Sales Indonesia mengatakan, keuntungan pemakaian bahan bakar B30 bisa lihat dari beberapa sisi. Misalnya dari sisi pelanggan, karena masih subsidi harganya masih kompetitif. “Keuntungan lainnya adalah operasional juga efisien. Sehingga keutungan para pengusaha jadi lebih baik,” ungkap Seno, kemarin.

Sementara jika dilihat dari sisi pemerintah, lanjut Seno, bahan bakar B30 ini bersinergi dengan program Presiden Joko Widodo yang concern terhadap program energi ramah lingkungan. Penerapan bahan bakar B30, diharapkan bisa memperbaiki emisi gas buang dari kendaraan komersil. "Program B30 ini akan memperbaiki emisi gas buang sehingga dampaknya lingkungan di Indonesia bisa lebih baik," ucapnya.

Selain itu, kata Seno, program B30 juga akan membantu beban devisa yang muncul dari impor solar murni. Menurutnya, ke depannya pemerintah juga akan meningkatkan B30 menjadi B50 hingga B100 secara bertahap. “Ini salah satu upaya mengurangi impor solar,” ungkapnya.

[Baca Juga: Isuzu Tak Khawatir Hadapi Kebijakan Euro 4 di Indonesia]

Untuk mendukung program tersebut, Hino sendiri telah melakukan pengembangan teknolgi untuk menunjang konsumsi B30 pada truk dan bus. “Bahkan Hino sudah siap dengan penerapan B100. Hanya saja masih dibutuhkan segala sesuatunya, seperti kesiapan dari pelaku industri, infrastruktur, dan lain sebagainya," tutupnya.

Artikel Lainnya

/media/images/Kia-Rio-Facelift-2.original.jpg

Kia Rio Facelift Kini Usung Mesin Hybrid Ringan

/media/images/Hyundai-Santa-Fe-Facelift.original.jpg

Hyundai Santa Fe 2021 Tak Sekadar Facelift